Sebelum Menikah Harus Lulus Sertifikasi Pranikah dulu

Sebelum Menikah Harus Lulus Sertifikasi Pranikah dulu

Muhadjir Effendy membuat program sertifikasi pranikah yang akan diberlakukan tahun 2020. Ini adalah surat legal menikah bagi calon pasangan suami-istri.  Hal itu dilakukan dengan tujuan memberikan pengetahuan seputar reproduksi dan jenis penyakit berbahaya yang bisa menyerah keluarga.

Dan karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang hal itu. Bahkan tidak jarang pasangan yang melewatkan pemeriksaan medis. Pemeriksaan berguna mengenali risiko penyakit dan cara mencegahnya.

 

Empat pemeriksaan yang harus dilakukan sebelum menikah

  1. Cek kesuburan

Tujuan utama menikah adalah untuk memiliki keturunan. Jadi tes kesuburan itu sangat penting menjadi syarat untuk menikah. Karena dari situ Anda bisa mengetahui perkembangan sel telur dan sperma di tubuh pasangan.

  1. Tes HIV atau penyakit menular

Masalah kesehatan yang ini tidak bisa disepelekan karena akan menimbulkan masalah dalam pernikahan. Ini juga berhubungan dengan keinginan dalam memiliki keturunan. Mungkin saja bisa menjadi pertimbangan antara melanjutkan hubungan terlebih dahulu. Atau mencari perawatan medis yang bisa menyembuhkan penyakit tersebut.

  1. Tes kondisi kronis

Tes yang mencakup diabetes, tes hipertensi, kanker, ginjal dan thalasemia. Ini sangat penting dilakukan bagi setiap pasangan. Sebeb itu semua bisa menurun ke calon buah hati, supaya bisa ditangani sedini mungkin sebelum menyebar.

  1. Tes golongan darah

setiap calon pasangan pengantin harus melewati tahap ini. Untuk menghindari masalah  saat kehamilan seperti rhesus. Dimana kondisi antibodi dalam darah bisa menghancurkan sel-sel darah bayi.

Pemebekalan ini tidak hanya berhubungan dengan agama saja. Tetapi sangat multiaspek, yang nantinya Kemenko PMK akan merangkul Kemenag dan Kemenkes. Waca sertifikasi ini menimbulkan pro dan kontra.

Terkadang masyarakat hanya menilai sekilas saja, tidak memahami apa yang dimaksud dan keuntungan yang didapatkan nanti. Negara akan memfasilitasi program pembekalan pranikah tanpa perlu mengambil alih program tersebut.

Jangan sampai materi pembekalan memekasakan nilai keyakinan kelompok mayoritas masyarakat terhadap kelompok minoritas. Supaya setiap agama tetap berpegang teguh pada tradisi masing-masing.

Pembekalan tersebut juga tidak dapat diajdikan acuan untuk mendapatkan sertifikasi. Peran negara hanya sampai memfasilitasi administrasi pencatatan saja. Yang intinya, negara tidak boleh mencampuri urusan pribadi seseorang.

Sertifikasi juga menciptakan peluasng suap menyuap. Padahal pernikahan tidak dikenai biaya sedikitpun bila pernikahan berlangsung di KUA. Supaya tidak merepotkan masyarakat wacana diterbitkannya sertifikasi pranikah harus dihapuskan.

Dengan adanya peraturan sertifikasi pranikah ini semakin mempersulit pasangan untuk menikah. Pasalnya bagi yang lulus bimbingan dia berhak mendapatkan sertifikasi dan bisa menikah. Lalu bagaimana dengan nasib pasangan yang tidak lulus sertifikasi? Apakah tidak boleh menikah.

Padahal menikah itu kan kewajiban dan hak seseorang. Sebenarnya peraturan tentang sertifikasi pranikah ini menguntungkan juga bagi pasangan calon suami istri. Karena disitu bisa mengetahui keseriusan pasangan kita nantinya.

Dan mengurangi tingkat perceraian yang menjadi masalah utama dalam pernikahan. Disitu pula akan diberitahu bagaimana membina keluarga yang baik dan menjadi pasangan yang melengkapi. Rencana sertifikasi ini akan dilakukan selama tiga bulan lamanya.

Nantinya para pembing dalam sertifikasi berasal dari Kemenag dan Kemenkes yang memberikan info tentang bidang yang bersangkutan. Dan bagi yang belum lulus, mereka tidak diperbolehkan menikah terlebih dahulu sesuai ketentuan yang berlaku.

Nantinya program sertifikasi ini akan di berlakukan bagi semua calon pasangan suami istri yang akan menikah apapun itu agamanya. Supaya tidak ada yang merasa dibeda-bedakan.

AKDSEO